Tuesday, February 20, 2018

Biografi Soekarno, Sang Presiden Pertama Indonesia


Seperti yang kita ketahui bersama, sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945 hingga saat ini tahun 2018, negara kepulauan ini sudah mengalami pergantian pemimpin negara atau presiden sebanyak tujuh kali. Dari mulai Soekarno hingga Joko Widodo. Kita akan membahas biografi ke tujuh tokoh yang pernah dan masih menjabat presiden hingga saat ini, mari kita mulai dari sang presiden pertama, Soekarno.

Biografi Soekarno (Presiden Pertama Indonesia)



Presiden pertama sekaligus sang proklamator kemerdekaan Indonesia ini lahir di Surabaya tanggal 6 Juni 1901. Pada saat dilahirkan, ia diberi nama Koesno Sosrodihardjo oleh orang tuanya kemudian pada saat berusia sebelas tahun namanya diganti menjadi Soekarno oleh sang ayah karena ia sering sakit.

Presiden yang akrab dipanggil Bung Karno merupakan orang yang pertama kali mencetuskan konsep pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia. Dan nama 'Pancasila' pun merupakan gagasan atau ide dari beliau. Bersama Bung Hatta, pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia yang kemudian tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari kemerdekaan negara Indonesia.

Riwayat Pendidikan Soekarno


Semasa kecilnya, Soekarno tinggal bersama sang kakek, Raden Hardjokromo di Tulung Agung. Pada saat tinggal bersama kakeknya tersebut, ia sempat bersekolah di Tulung Agung (kurang info yang menjelaskan nama sekolah tersebut) yang kemudian pada akhirnya ia pindah ke Magelang dan tinggal bersama ayahnya yang sedang bekerja di kota tersebut. 

Pada saat di Magelang, ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, memasukkan beliau ke sekolah tempat ia bekerja (ayah dari Soekarno adalah seorang guru ) yaitu Eerste Inlandse School. Namun sebelum lulus di sekolah tersebut, Soekarno kembali pindah sekolah, tepatnya pada Juni 1911, Soekarno dipindahkan ke Eroupeesche Lagere School (ELS). Hal ini bertujuan agar nantinya ia bisa diterima di Hogere Burger School (HBS). Pada tahun 1915, Soekarno lulus dari sekolah ELS dan berhasil masuk ke HBS di Surabaya. Ia berhasil masuk ke HBS berkat bantuan dari teman sang ayah yakni H.O.S Tjokroaminoto. Selama menempuh pendidikan di Surabaya, Soekarno diberi tempat oleh Tjokroaminoto di pondokan kediamannya.

Selama di Surabaya ini pula Soekarno aktif di sebuah organisasi pemuda yang dibentuk Budi Utomo bernama  Tri Koro Dharmo, yang kemudian pada tahun 1918 ia mengganti nama organisasi tersebut menjadi Jong Java yang berarti pemuda jawa. Soekarno juga turut aktif sebagai penulis di salah satu harian yang dipimpin Tjokroaminoto bernama "Oetoesan Hindia". 

Pada tahun 1921, Soekarno pergi ke Bandung setelah lulus dari HBS. Soekarno bersama teman satu angkatannya di HBS, Djoko Asmo, melanjutkan pendidikan ke Hoogeschool te Bandoeng yang sekarang dikenal dengan nama Institut Teknologi Bandung (ITB). 

Dua bulan kuliah di ITB, Soekarno kemudian tidak meneruskan kuliahnya, alasannya tidak diketahui, namun ia kembali mendaftar dan masuk kembali ke ITB pada tahun 1922. Pada saat di Bandung ini, Soekarno tinggal bersama Haji Sanusi yang merupakan anggota dari organisasi Sarekat Islam. Haji Sanusi ini merupakan sahabat karib dari Tjokroaminoto.

4 tahun kemudian atau pada tahun 1926, tepatnya tanggal 25 Mei 1926, Soekarno dinyatakan lulus ujian insinyur dan diwisuda pada tanggal 3 Juli 1926 bertepatan Diesnatalis kota Bandung yang ke enam bersama-sama dengan 18 wisudawan lainnya. 3 diantara wisudawan tersebut adalah orang Jawa yakni Soekarno, Anwari dan Soetedjo

Istri, Anak Dan Orang Tua Soekarno


Soekarno merupakan Putra dari Pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya (1901-1970), Soekarno diketahui telah menikahi 9 wanita. Dan dari sembilan kali pernikahannya tersebut, Soekarno dikaruniai 10 orang anak.

Pada tahun 1921, Soekarno memperistri Oetari Tjokroaminoto, anak dari gurunya, Tjokroaminoto. Pernikahannya dengan Oetari tidak bertahan lama dikarenakan sifat dari Oetari pada saat itu masih kekanak-kanakan, pada saat dinikahinya, Oetari masih berusia 16 tahun sedangkan Soekarno sendiri masih berusia 20 tahun Dari pernikahannya dengan Oetari, Soekarno tidak memiliki keturunan (anak). 

Wanita berikutnya yang menjadi istri Soekarno adalah Inggit Garnasih. Inggit dinikahi Soekarno pada saat Soekarno kuliah di Bandung. Saat itu Soekarno berusia 20 tahun sedangkan Inggit berusia 31 tahun. Inggit sendiri sebenarnya sebelumnya sudah memiliki suami yakni Haji Sanusi, namun Soekarno yang kepincut atas kecantikannya berhasil merebut cinta Inggit hingga akhirnya Inggit berpisah dengan Haji Sanusi dan menikah dengan Soekarno. Pernikahan Soekarno dengan Inggit bertahan selama 20 tahun, yang akhirnya Soekarno menceraikan Inggit pada tahun 1943 karena Inggit menolak dimadu. Pernikahan Soekarno dan Inggit yang berlangsung 20 tahun tidak dikaruniai seorang anak. Alasan ini pula yang (mungkin) menjadi alasan Soekarno ingin menikah lagi.

Wanita ketiga yang berhasil memincut hati Soekarno adalah Fatmawati. Fatmawati kemudian dikenal sebagai ibu negara pertama di Indonesia. Soekarno pertama kali bertemu dengan Fatmawati saat dirinya 'dibuang' ke Bengkulu. Pernikahan Soekarno dan Fatmawati ini mengharuskan pernikahannya sebelumnya dengan Inggit harus berakhir karena Inggit menolak dimadu. Pada saat menikahi Fatmawati, tanggal 1 Juni 1943, Soekarno saat itu sudah berusia 42 tahun kurang 5 hari sedangkan Fatmawati baru berusia 20 tahun. Dari hasil pernikahannya dengan Fatmawati, Soekarno dikarunia 5 orang anak, dimana salah satu dari kelima anak tersebut adalah presiden Indonesia kelima yaitu Megawati Soekarno Putri. Adapaun nama-nama anak Soekarno dan Fatmawati adalah Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh.

8 tahun setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya tahun 1953, Soekarno menikahi seorang janda beranak lima, Hartini. Hartini tetap menjadi istri Soekarno sampai ajal menjemput sang proklamator ini. Bahkan menurut beberapa sumber, Soekarno wafat di pangkuan Hartini. Dari hasil pernikahannya dengan Hartini, Soekarno dikaruniai dua orang anak laki-laki yaitu Taufan Soekarno Putra dan Bayu Soekarno Putra.

Perempuan kelima yang dinikahi Soekarno adalah seorang wanita mantan pramugari Garuda Indonesia yang bernama Kartini Manoppo. Kartini dinikahi Soekarno pada tahun 1959. Kartini sendiri merupakan seorang wanita asal Bolaang Mongondow. Awal mula Soekarno mengenal Kartini adalah ketika ia melihat lukisan wajah wanita ciptaan Basuki Abdullah yang kemudian ia terpesona dengan sosok dalam lukisan tersebut, hingga akhirnya Basuki Abdullah mengenalkannya dengan Kartini yang tak lain adalah sosok yang ada di lukisan tersebut. Sebelum dinikahi oleh Soekarno, Kartini selalu diminta Soekarno menemaninya di setiap kunjungan Soekarno ke luar negeri. Dari hasil pernikahannya dengan Kartini, Soekarno dikaruniai seorang anak bernama Totok Suryawan Sukarno.

Ratna Sari Dewi adalah perempun ke-enam yang menjadi istri Soekarno. Ratna Sari Dewi merupakan wanita asal Jepang yang memiliki nama asli Naoko Nemoto. Ratna dinikahi Soekarno pada tahun 1962 pada saat dirinya masih berusia 19 tahun. Dan dari hasil pernikahannya dengan Soekarno, Ratna Sari Dewi memberikan satu orang anak untuk Soekarno yakni Kartika Sari Dewi Soekarno

Nama-nama lain yang juga sempat menjadi istri dari Soekarno adalah Haryati, Yurike Sanger dan Heldy Djafar. Dan dari hasil pernikahannya dengan Haryati, Soekarno menghasilkan satu orang anak yang bernama Ayu Gumbirowati.

Karir Dan Masa Kepresidenan Soekarno


Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, Soekarno merupakan alumni teknik sipil Institut Teknologi Bandung. Dan setelah lulus dari ITB pada tahun 1926, Soekarno bersama Ir. Anwari mendirikan sebuah biro Insinyur yang mengerjakan rancangan bangunan.

Hasil karya rancangan Soekarno dan kawan-kawan saat menjadi Insinyur masih bisa kita lihat sampai sekarang diantaranya yakni Masjid Istiqlal dan Patung Dirgantara (Patung Pancoran).

Setelah Indonesia menyatakan kedaulatannya sebagai negara merdeka, Soekarno diangkat menjadi presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan Mohammad Hatta sebagai wakilnya. Banyak keputusan-keputasan kontroversional yang terjadi pada masa jabatan Soekarno namun tak sedikit pula gagasan atau ide-ide cemerlang Soekarno yang dilahirkan untuk Indonesia.

Masa kepresidenan Soekarno berakhir  pada 20 Februari 1967 ketika ia menandatangani Surat Penyataan Penyerahan Kekuasaan  yang dilakukan di Istana Merdeka. Secara de facto, Soeharto menggantikan posisi Soekarno sebagai Presiden Indonesia.

Kesehatan Soekarno Hingga Meninggal


Kesehatan Soekarno mulai memburuk sejak Agustus 1965. Ini merupakan efek dari penyakit ginjal yang diidapnya, Soekarno dinyatakan mengidap penyakit ginjal sejak tahun 1961. Karena penyakit ginjal ini, Soekarno pernah dirawat di salah satu rumah sakit di Kota Wina, Austria pada tahun 1961 dan 1964.

Salah satu dokter yang merawatnya menyarankan agar ginjal sebelah kirinya diangkat namun Soekarno menolak dan ia lebih memilih jalur pengobatan tradisional. Soekarno bertahan melawan penyakitnya selama lima tahun sebelum akhirnya meninggal pada 21 Juni 1970.

Soekarno meninggal di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto. Pada saat meninggal, status Soekarno merupakan seorang tahanan politik. Jenazah Soekarno kemudian dibawa Wisma Yasso yang merupakan milik dari Ratna Sari Dewi.

Semasa hidupnya, Soekarno pernah minta dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor. Namun, Soeharto yang saat itu menjadi presiden, melalui Keppres RI No. 44 Tahun 1940, memilih Blitar sebagai tempat peristirahatan terakhir untuk sang arjuna. Soekarno dimakamkan bersebelahan dengan makan sang Ibunda, Ida Ayu Nyoman Rai. Upacara pemakaman sang proklamator pada saat itu dipimpin oleh Jenderal M. Panggabean yang bertindak sebagai inspektur upacara. Kemudian pemerintah menetapkan tujuh hari setalah pemakaman sebagai masa berkabung.


Itulah biografi Soekarno, sang proklamator sekaligus presiden pertama di Indonesia. Beikutnya kita akan membahas Biografi Soeharto, Presiden Kedua Indonesia.
Load disqus comments

0 comments